Rabu, 14 April 2010
HTML merupakan bahasa pemrograman bebasis web yang dapat kita gunakan untuk membuat desain suatu web. Nah, tutorial HTML yang akan saya berikan untuk postingan ini adalah mengenai cara membuat tabel HTML, sebenarnya tutorial belajar HTML ini dapat kita temui di w3schools.com, tapi berhubung tutorial ini berguna untuk edit-edit template blog (berhubungan dengan blogging) jadi saya posting aja disini .
Berikut Kode HTML yang akan kita gunakan untuk membuat tabel html:
– merupakan tag awal, sebagai penanda awal dan menjadi akhir dari suatu pembuatan tabel.
– merupakan tag yang berfungsi untuk menandakan suatu baris yang
ada di dalam tabel
– merupakan tag yang berguna untuk membagi baris tabel untuk
menjadi beberapa kolom.
Dan dari tag tersebut memiliki atribut seperti di bawah ini:
bgcolor - untuk warna backgorund dari tabel
background - ini dpaat kita gunakan apabila ingin membuat background tabel di ambil dari suatu gambar
width – berguna sebagai atribut untuk menentukan lebar tabel
height – menentukan tinggi tabel
align - atribut yang berguna untuk mengatur perataan horizontal
valign – atribut yang berguna untuk mengatur perataan vertikal
border - atribut ini berguna sebagai atribut untuk menentukan lebar bingkai pada tabel
cellspacing – atribut untuk menentukan jarak antar kolom
cellpadding – menentukan jarak antara isi dengan tepi kolom (bisa di bilang margin)
colspan – atribut yang berguna untuk menentukan berapa kolom tabel yang akan digabung
cowspan – atribut yang berguna untuk menentukan berapa baris yang akan digabung
Sebagai contoh dari penggunaan tabel, dapat dilihat melalui beberapa contoh tabel dan coding html nya:
Ini kolom pertama Ini kolom kedua
Ini kolom pertama baris kedua Ini kolom kedua baris
kedua
———————————————————————
BORDER=”1″>
Ini kolom pertama Ini kolom kedua
Ini kolom pertama baris kedua Ini kolom kedua baris kedua
———————————————————————
Ini kolom pertama
Ini kolom kedua
Ini kolom pertama baris kedua
align=”right”>Ini kolom kedua baris kedua
———————————————————————
bgcolor=”#009900″ width=”70%”>
Ini kolom pertama
background=”background.gif” width=”30%”>
Ini kolom kedua
Ini kolom pertama baris
kedua Ini kolom kedua baris kedua
———————————————————————
bgcolor=”#009900″ width=”70%”>
Ini kolom pertama
background=”background.gif” width=”30%”>
Ini kolom kedua
Ini kolom pertama baris
kedua Ini kolom kedua baris kedua
———————————————————————
CELLSPACING=”5″>
Ini kolom
gabungan
valign=”top”>Ini kolom pertama baris kedua
Ini kolom kedua
baris kedua
———————————————————————
bgcolor=”#009900″ width=”70%” ROWSPAN=”2″>
Ini kolom pertama gabungan
background=”background.gif” width=”30%”>
Ini kolom kedua
Ini kolom kedua baris kedua
Semoga membantu
info selengkpanya klik di : http://hasiaulia.net/2009/11/30/cara-membuat-tabel-html/
Selasa, 13 April 2010
"MEMBUAT TABEL DALAM HTML"
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 18.52 0 komentar
Selasa, 16 Maret 2010
Sejarah internet Indonesia bermula pada awal tahun 1990-an, saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet.
M. Samik-Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, Onno W. Purbo jaringan komputer dan Internet di Indonesia. merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia di tahun 1992 hingga 1994. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah
Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPASJaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di akhir tahun 1990 awal 1991. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989. berjudul "
Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan di amatir radio khususnya di Amatir Radio Club (ARC) ITB1986. Bermodal pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama (YC1HCE) dengan komputer Apple II milik Onno W. Purbo (YC1DAV) sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama (YC1HCE), J. Tjandra Pramudito (YB3NR), Suryono Adisoemarta (N5SNN) bersama Onno W. Purboamatir radio seperti Robby Soebiakto (YB1BG), Achmad Zaini (YB1HR), Yos (YB2SV), di band 40m (7MHz). di tahun (YC1DAV), berguru pada para senior
Robby Soebiakto YB1BG yang waktu itu bekerja di PT. USI IBM Jakarta merupakan pakar diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data radio paket yang kemudian mendorong ke arah TCP/IP. Teknologi radio paket TCP/IP yang kemudian di adopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, dan ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994.
Di tahun 1988, dalam surat pribadi Robby Soebiakto YB1BG mendorong Onno W. Purbo YC1DAV/VE3 yang berada di Hamilton, Ontario, Kanada untuk mendalami TCP/IP. Robby Soebiakto YB1BG meyakinkan Onno W. Purbo YC1DAV/VE3 bahwa masa depan teknologi jaringan komputer akan berbasis pada protokol TCP/IP.
Robby Soebiakto (YB1BG) menjadi koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Sejak tahun 2000AMPR-net Indonesia di koordinir oleh Onno W. Purbo (YC0MLC). Koordinasi dan aktifitas-nya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list ORARI, seperti, orari-news@yahoogroups.com.
Di tahun 1986-1987 awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia, Robby Soebiakto (YB1BG) merupakan pionir dikalangan pelaku amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak "server" BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar.
Di awal tahun 1990 komunikasi antara Onno W. Purboamatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Kanada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio. (YC1DAV/VE3) yang waktu itu berada di Kanada dengan panggilan YC1DAV/VE3 dengan rekan-rekan amatir radio di Indonesia dilakukan melalui jaringan
Robby Soebiakto YB1BG berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik amatir radio kemudian melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Kanada. Pengetahuan secara perlahan ditransfer dan berkembang melalui jaringan amatir radio ini.
Tahun 1992-1993, Muhammad Ihsan masih staff peneliti di LAPANBogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh pimpinannya Ibu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m. Ranca Bungur tidak jauh dari
Jaringan LAPAN dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25packet radio. Muhammad Ihsan mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT di tahun 1993-1998. pada infrastruktur
Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway radio paket bekerja pada band 70cm di tahun 1993-1998-an. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan protokol X.25 melalui jaringan Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP) terkait pada gateway di DLR Jerman.
Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo menjalankan BBSBBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki yang "maniak" IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama Indonesia yang menjawab e-mail sendiri. pusdata.dprin.go.id. Di masa awal perkembangannya
Gateway Internet ITB yang pertama menggunakan 286
Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio Club (ARC) ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, Arman Hazairin
Sumber : http://www.alumni.tiupnjogja.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=9
Tanggal Akses : 17 Maret 2010
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 21.20 0 komentar
Rabu, 04 November 2009
Aksel itu Indah

“Kring…” bel istirahat pertama di SMA ku berbunyi. “ Terima kasih ya Allah… Kau telah menyelmatkan hamba-Mu dari pelajaran kimia ini. “ Begitulah yang pertama kali kupikirkan saat mendengar bel tersebut. SMA ku, SMA N 1 Batu-Malang, termasuk SMA favorit di kota Malang. Di sekolahku, terdapat sebuah kelas istimewa, yakni kelas akselerasi. Tes akselerasi telah diadakan beberapa minggu lalu. Aku dan dua orang temanku telah mengikuti tes tersebut dan berharap agar mendapatkan hasil yang terbaik.
Aku, Nira, dan Nisa pergi ke kantin untuk menghabiskan waktu istirahat. Kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama dimanapun kami berada. Setelah dua puluh menit kami habiskan untuk menyantap bakso, kami bertiga kembali masuk dalam kelas. Beberapa saat kemudian, Bu Yasmin masuk dalam kelas kami. Beliau berkata, “ Tori Mei, Nira Riana, dan Anisa Kusuma harap menuju ke ruang TRRC sekarang jga, karena telah ditunggu oleh Ibu Kepala Sekolah”. “Dhizenkkk…” kami kaget setengah mati, namun telah kami putuskan untuk pergi ke ruang TRRC, sementara Bu Yasmin tengah sibuk berkeliling menuju kelas lain.
“Ada apa ini ???, jangan-jangan kami melakukan kesalahan ? atau mungkin kami melanggar peraturan ??”, begitlulah kira-kira yang kami pikirkan. “Dhag-Dhig_Dhug…” detak jantung kami bergema serentak. Beberapa meter dari TRRC, kami berhenti sejenak, dan berdo’a semoga tak terjadi apa-apa.
Memasuki ruang TRRC, disana ada Mega, Dita, Izza, Adit, Dewi, dan lima orang lainnya. Dan tak lupa juga ada Ibu Titi selaku Kepala Sekolah yang telah menunggu kedatangan kami bertiga. Sesaat setelah kami duduk, Bu Titi berdiri dari kursinya, dan memulai pembicaraan yang akan disampaikan. Dalam waktu sekitar duap puluh menit, kam bertiga belas hanya dapat menyimak segala sesuatu yang disampaikan oleh Bu Titi. Dan saat pembicaraan usai, kami mengetahui dan menyimpulkan bahwa kami bertiga belas lolos tes akselerasi. Sehingga dalam waktu dekat ini, kami harus berpindah menuju kelas I. Aku masih ragu menerima kenyataan itu, aku terus berpikir bahwa aku tak pantas menjadi seorang murid akselerasi. Namun atas dorongan orang-orang yang ada di sekitarku, sedikit demi sedikit rasa percaya diri itu tumbuh dan membuatku bertekad bulat untuk mesuk kelass akselerasi.
Tepatnya tanggal 28 Agustus 2009, kelas I telah sah menjadi kelasku. Kelas yang akan ku huni selama dua tahun bersama dua belas orang temanku. Kelasku berukuran sangat kecil (mini size), sekitar 4m x 5m. Namun aku meras sangat nyaman dalam kelas itu. Tak hanya itu, guru-guru yang mengajarpun merupakan guru pilihan, sehingga penjelasan yang diberikan mudah dimengerti.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu telah aku lalui di kelas akselerasi. Banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan perubahan itu, membuatku merasa lelah dan lemah apabila memikirkannya. Dalam satu kali pertemuan, Pak Koko, guru matematika, memberi PR begitu banyak. Sehingga saat melihatnya, serasa melihat jutaan semut kecil menempel dalam buku tugasku. Hampir setiap hari kuhabiskan utuk mengerjakan tugas, membuat presentasi, belajar untuk ulangan, bimbingan belajar, dan pelajaran tambahan. “Uhh..begitu menyebalkan !!”. Namun, semakin lama, jadwal harian itu terasa semakin ringan, dan kurasa…aku mulai menikmatinya. Walaupun jadwal harian online facebook harus berkurang, aku rela asalkan nilai dalam kelas memuaskan.
Sabtu sore adalah jadwal onlineku. Bersama Nira, kuhabiskan waktu hingga pukul 15.00 WLK (Waktu laptopku) di gazebo sekolah. Jadwal inilah yang membuatku merasa fresh kembali setelah enam hari berkutat dengan buku, LKS, serta lembar fotocopyan.
Aku heran, banyak temanku yang berkata bahwa sabtu malam adalah saatnya have fun. Tapi semua itu tak berlaku untukku. Sabtu malam adalah saatnya berpacaran, “eitss… jangan berpikir negative dulu !!”, aku berpacaran dengan setumpuk buku, yang masing-masing darii buku tersebut memiliki ketebalan ±3cm. “Bisa membayangkan ???, bukankah itu indah ??”. Yah begitulah keseharian seorang murid akselerasi. Walaupun banyak yang berkata bahwa aksel itu berat, aku tetap yakin dan meyakinkan diri sepenuhnya bahwa aksel itu indah.
Dengan tiga belas temanku, aku dapat berbagi canda dan tawa, suka dan duka, atau bahkan berbagi PR. “hehehe…”. Pagi itu, matematika adalah pelajaran pertama, karena semalam aku ketiduran, PR ku belum tuntas. Saat Nira dan Nisa datang, aku segera menghampiri mereka. “Ra…pinjem PR mu donk !!”, Nira memberikan PRnya padaku dan akupun mulai menyalinnya. Belum tuntas aku menyalin, Pak Koko datang. “uh…Pak Koko kok on time banget sih ???” gumamku. Dengan sedikit rasa bersalah aku mengumpulkan buku tugas. Namun, setelah usahaku selama berjam-jam mengerjakan PR matematika, Pak Koko hanya menandatanginanya saja tanpa memeriksa sedikitpun.”Huf…sabar…” nasihatku pada dirik sendiri. Setelah itu, Pak Koko memberikan sedikitnya lima puluh nomor sebagai PR baru.
Pukul 13.30 aku pulang. Kudapati bude sedang bertelepon dengan seseorang. Dan ternyata orang tersebut adalah ibuku. Bude segera menyerahkan telepon padaku. “Assalamu’alaikum buk, ada apa ??”, “Waalaikumsalam…Bapakmu lagi sakit nduk, tekanan darahnya tinggi, badannya demam, dan pucat sekali”. “Astaghfirullah buk,kok bisa ??”, “Bapakmu kecapaian dan bingung karena terlalu banyak pekerjaan. Sudah dulu ya nduk…Bapakmu mangil ibuk. Assalamu’alaikum..” “Waalakumsalam..”
Aku masuk dalam kamar, menangis sejadi-jadinya Karena tidak dapat menemani bapak ketika beliau sedang sakit. Dari kejadian ini, aku sadar bahwa tugas-tugas dari kelas aksel begitu mudah dan ringan, dibandingkan dengan bebabn yang harus bapak dan ibu tanggung selama menyekolahkanku. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalani sekolah ini, dan semoga apa yang aku lakukan dapat membanggakan kedua orang tua. Dan mulai saat itu, aku yakin bahwa akselerasi itu indah.
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 02.12 0 komentar
low middle bussines
Low And Middle Class Business Owners Are Educated…
Low and Middle Class Business Owners are Highly Educated
Each day millions of people encounter many different types of small businesses whose purpose is to assist those customers with a particular interest. For example, many people may like to start off the day by going into a delicatessen to buy breakfast and then occasionally might have to stop by a gas station where a newspaper or a pack of cigarettes may catch their attention while they are filling up gas. Around lunchtime, a person may grow an appetite for Italian food, Chinese food, American food, Mexican food or even other types, in which each type of meal calls for a different store whose purpose is to serve that specific cultural meal. Many people may then spend the afternoon shopping for clothes, shoes, and/or food for the house. Women may have an appointment for a nail treatment, spa treatment, or a haircut. In other words, if people take the time to notice how they spent their day, they may realize they had sought many types of businesses for a particular purpose. However, they may also realize that many of these everyday small businesses, not including department stores and mega-multi shopping stores such as Wal-Mart, are generally run by minorities, who include African Americans, Asians, Hispanics and women, and/or people of middle class status. It is obvious that owning and running a successful business is not an easy day-to-day task. Yet, a management position or even an employee position in a small privately owned business may not be as difficult to obtain a professional position in a large company whose typical minimum requirement would be to have a bachelor’s degree. This leads to the stereotype that a majority of the employees and owners of small privately owned businesses do not have the required education that would allow them to gain a professional career. Since a college education is a large expense and requires a lot of time, minorities of the lower to middle class may not...
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 01.51 0 komentar
Low middle bussines
Low And Middle Class Business Owners Are Educated…
Low and Middle Class Business Owners are Highly Educated
Each day millions of people encounter many different types of small businesses whose purpose is to assist those customers with a particular interest. For example, many people may like to start off the day by going into a delicatessen to buy breakfast and then occasionally might have to stop by a gas station where a newspaper or a pack of cigarettes may catch their attention while they are filling up gas. Around lunchtime, a person may grow an appetite for Italian food, Chinese food, American food, Mexican food or even other types, in which each type of meal calls for a different store whose purpose is to serve that specific cultural meal. Many people may then spend the afternoon shopping for clothes, shoes, and/or food for the house. Women may have an appointment for a nail treatment, spa treatment, or a haircut. In other words, if people take the time to notice how they spent their day, they may realize they had sought many types of businesses for a particular purpose. However, they may also realize that many of these everyday small businesses, not including department stores and mega-multi shopping stores such as Wal-Mart, are generally run by minorities, who include African Americans, Asians, Hispanics and women, and/or people of middle class status. It is obvious that owning and running a successful business is not an easy day-to-day task. Yet, a management position or even an employee position in a small privately owned business may not be as difficult to obtain a professional position in a large company whose typical minimum requirement would be to have a bachelor’s degree. This leads to the stereotype that a majority of the employees and owners of small privately owned businesses do not have the required education that would allow them to gain a professional career. Since a college education is a large expense and requires a lot of time, minorities of the lower to middle class may not...
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 01.37 0 komentar


