
“Kring…” bel istirahat pertama di SMA ku berbunyi. “ Terima kasih ya Allah… Kau telah menyelmatkan hamba-Mu dari pelajaran kimia ini. “ Begitulah yang pertama kali kupikirkan saat mendengar bel tersebut. SMA ku, SMA N 1 Batu-Malang, termasuk SMA favorit di kota Malang. Di sekolahku, terdapat sebuah kelas istimewa, yakni kelas akselerasi. Tes akselerasi telah diadakan beberapa minggu lalu. Aku dan dua orang temanku telah mengikuti tes tersebut dan berharap agar mendapatkan hasil yang terbaik.
Aku, Nira, dan Nisa pergi ke kantin untuk menghabiskan waktu istirahat. Kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama dimanapun kami berada. Setelah dua puluh menit kami habiskan untuk menyantap bakso, kami bertiga kembali masuk dalam kelas. Beberapa saat kemudian, Bu Yasmin masuk dalam kelas kami. Beliau berkata, “ Tori Mei, Nira Riana, dan Anisa Kusuma harap menuju ke ruang TRRC sekarang jga, karena telah ditunggu oleh Ibu Kepala Sekolah”. “Dhizenkkk…” kami kaget setengah mati, namun telah kami putuskan untuk pergi ke ruang TRRC, sementara Bu Yasmin tengah sibuk berkeliling menuju kelas lain.
“Ada apa ini ???, jangan-jangan kami melakukan kesalahan ? atau mungkin kami melanggar peraturan ??”, begitlulah kira-kira yang kami pikirkan. “Dhag-Dhig_Dhug…” detak jantung kami bergema serentak. Beberapa meter dari TRRC, kami berhenti sejenak, dan berdo’a semoga tak terjadi apa-apa.
Memasuki ruang TRRC, disana ada Mega, Dita, Izza, Adit, Dewi, dan lima orang lainnya. Dan tak lupa juga ada Ibu Titi selaku Kepala Sekolah yang telah menunggu kedatangan kami bertiga. Sesaat setelah kami duduk, Bu Titi berdiri dari kursinya, dan memulai pembicaraan yang akan disampaikan. Dalam waktu sekitar duap puluh menit, kam bertiga belas hanya dapat menyimak segala sesuatu yang disampaikan oleh Bu Titi. Dan saat pembicaraan usai, kami mengetahui dan menyimpulkan bahwa kami bertiga belas lolos tes akselerasi. Sehingga dalam waktu dekat ini, kami harus berpindah menuju kelas I. Aku masih ragu menerima kenyataan itu, aku terus berpikir bahwa aku tak pantas menjadi seorang murid akselerasi. Namun atas dorongan orang-orang yang ada di sekitarku, sedikit demi sedikit rasa percaya diri itu tumbuh dan membuatku bertekad bulat untuk mesuk kelass akselerasi.
Tepatnya tanggal 28 Agustus 2009, kelas I telah sah menjadi kelasku. Kelas yang akan ku huni selama dua tahun bersama dua belas orang temanku. Kelasku berukuran sangat kecil (mini size), sekitar 4m x 5m. Namun aku meras sangat nyaman dalam kelas itu. Tak hanya itu, guru-guru yang mengajarpun merupakan guru pilihan, sehingga penjelasan yang diberikan mudah dimengerti.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu telah aku lalui di kelas akselerasi. Banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan perubahan itu, membuatku merasa lelah dan lemah apabila memikirkannya. Dalam satu kali pertemuan, Pak Koko, guru matematika, memberi PR begitu banyak. Sehingga saat melihatnya, serasa melihat jutaan semut kecil menempel dalam buku tugasku. Hampir setiap hari kuhabiskan utuk mengerjakan tugas, membuat presentasi, belajar untuk ulangan, bimbingan belajar, dan pelajaran tambahan. “Uhh..begitu menyebalkan !!”. Namun, semakin lama, jadwal harian itu terasa semakin ringan, dan kurasa…aku mulai menikmatinya. Walaupun jadwal harian online facebook harus berkurang, aku rela asalkan nilai dalam kelas memuaskan.
Sabtu sore adalah jadwal onlineku. Bersama Nira, kuhabiskan waktu hingga pukul 15.00 WLK (Waktu laptopku) di gazebo sekolah. Jadwal inilah yang membuatku merasa fresh kembali setelah enam hari berkutat dengan buku, LKS, serta lembar fotocopyan.
Aku heran, banyak temanku yang berkata bahwa sabtu malam adalah saatnya have fun. Tapi semua itu tak berlaku untukku. Sabtu malam adalah saatnya berpacaran, “eitss… jangan berpikir negative dulu !!”, aku berpacaran dengan setumpuk buku, yang masing-masing darii buku tersebut memiliki ketebalan ±3cm. “Bisa membayangkan ???, bukankah itu indah ??”. Yah begitulah keseharian seorang murid akselerasi. Walaupun banyak yang berkata bahwa aksel itu berat, aku tetap yakin dan meyakinkan diri sepenuhnya bahwa aksel itu indah.
Dengan tiga belas temanku, aku dapat berbagi canda dan tawa, suka dan duka, atau bahkan berbagi PR. “hehehe…”. Pagi itu, matematika adalah pelajaran pertama, karena semalam aku ketiduran, PR ku belum tuntas. Saat Nira dan Nisa datang, aku segera menghampiri mereka. “Ra…pinjem PR mu donk !!”, Nira memberikan PRnya padaku dan akupun mulai menyalinnya. Belum tuntas aku menyalin, Pak Koko datang. “uh…Pak Koko kok on time banget sih ???” gumamku. Dengan sedikit rasa bersalah aku mengumpulkan buku tugas. Namun, setelah usahaku selama berjam-jam mengerjakan PR matematika, Pak Koko hanya menandatanginanya saja tanpa memeriksa sedikitpun.”Huf…sabar…” nasihatku pada dirik sendiri. Setelah itu, Pak Koko memberikan sedikitnya lima puluh nomor sebagai PR baru.
Pukul 13.30 aku pulang. Kudapati bude sedang bertelepon dengan seseorang. Dan ternyata orang tersebut adalah ibuku. Bude segera menyerahkan telepon padaku. “Assalamu’alaikum buk, ada apa ??”, “Waalaikumsalam…Bapakmu lagi sakit nduk, tekanan darahnya tinggi, badannya demam, dan pucat sekali”. “Astaghfirullah buk,kok bisa ??”, “Bapakmu kecapaian dan bingung karena terlalu banyak pekerjaan. Sudah dulu ya nduk…Bapakmu mangil ibuk. Assalamu’alaikum..” “Waalakumsalam..”
Aku masuk dalam kamar, menangis sejadi-jadinya Karena tidak dapat menemani bapak ketika beliau sedang sakit. Dari kejadian ini, aku sadar bahwa tugas-tugas dari kelas aksel begitu mudah dan ringan, dibandingkan dengan bebabn yang harus bapak dan ibu tanggung selama menyekolahkanku. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalani sekolah ini, dan semoga apa yang aku lakukan dapat membanggakan kedua orang tua. Dan mulai saat itu, aku yakin bahwa akselerasi itu indah.
Rabu, 04 November 2009
Aksel itu Indah
Diposting oleh threeya.blogspot.com di 02.12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar